Tiba-tiba ia datang padaku. Belum pernah kulihat cahaya yang meretas masuk ke dalam selaput bening mataku seterang itu. Ia datang padaku dan hampir-hampir aku bisa merasakan jeritan kalbunya yang terkubur oleh asa dan kepedihan, atas semua derita yang menimpanya selama ini. Memang, sangat jelas jurang pemisah antara apa yang ia dambakan dan apa yang saat ini terjadi pada dirinya.
Ia bertutur “umumnya manusia, lebih khususnya anak muda, mereka banyak memperbincangkan tentang diriku dan kehadiranku di tengah- tengah mereka. Inilah yang membuatku tersiksa dan kesedihanku semakin membuncah.”
Aku katakan“ Mengapa engkau tampak begitu sedih., pikiranmu seakan diselimuti oleh arakan mendung kesedihan? Apa yang terjadi atas dirimu? Bukankah engkau ratu kebahagiaan yang senantiasa diharapkan hadir selalu dalam jiwa setiap orang. Engkau yang membuat jiwa manusia menjadi hidup, penuh senyum bahagia dan jalan pun menjadi terang benderang ibarat bulan purnama di malam hari?”
Ia menjawab“ Inilah derita yang menimpaku ! Dan mungkin, itu juga yang kan menimpamu hari ini.”
Aku katakan“ Apa makasud ungkapanmu itu, aku betul-betul tidak paham? Tolong, jelaskan kepadaku!”
Ia berkata” aku adalah ratu beracun yang akan mengajarkan kepada manusia apa sebenarnya keindahan itu? Keindahan alami yang rabbani (keindahan yang bermuara pada cawan cinta illahi) adalah sumber kehidupan jiwaku. Duhai teman, akulah yang akan membuat ilustrasi keindahan terpancarkan pada pikiran setiap orang. Diantara mereka ada yang mengekspresikan keindahan itu dengan rindu yang meledak-ledak.”
Aku katakan”Sudahlah. Tidak perlu kita urus lagi masalah ini. Kita semua tahu tentang dirimu. Siapa di dunia ini yang tidak tahu tentang cinta. Engkaulah yang menerangi jalan dan engkau adalah kehidupan ruhku.”
Kemudian ia memotong pembicaraanku” Anak-anak muda banyak yang tidak mengenal baik siapa sebenarnya aku? Mereka salah persepsi tentangku. Sehingga aku identik dengan sekedar pemenuhan keinginan dan syahwat. Betapa pedihnya perasaanku atas oknum yang mencemarkan nama suciku dengan melanggar aturan syara’ dan tindakan-tindakan bodoh atas nama cinta, padahal aku bebas dari semua yang ia lakukan. Apakah memang engkau rela atas nasibku yang hanya berperan sebatas yang dipersepsikan orang, yang identik dengan harga diri yang begitu murah? Atau aku hanyalah sebuah sirine yang memanggil seseorang untuk berbuat asusila dan tidak terhomat dan tanpa makna?”
Aku katakan”aku pikir mereka tidak salah paham terhadapmu. Akan tetapi mereka memang belum mendapatkan orang yang mengenalkan mereka hakikat cinta. Jadi, apa salah mereka, sementara mereka sedang dibelenggu oleh persepsi seperti ini? Apalagi didukung dengan tayangan-tayangan film yang heboh, iklan-iklan, cover majalah, pernyataan-pernyataan Si Fulan yang ngetrend atau artis tertentu.”
Ia berkata”Engku mulai paham apa yang aku maksud. Tapi engkau belum memberikan solusi yang aku inginkan, atas kedatanganku. Engkau hanya memaparkan problematika dan mengapa problem itu muncul. Sementara aku berharap engkau bisa membantuku keluar dari cobaan ini. Allah SWT menciptakan agar –dihari kiamat nanti- manusia bisa berlindung di bawah payung-Nya di saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Di saat Allah memanggil mereka di padang Mahsyar dan matahari berada di dekat kepala mereka, “Dimanakah orang yang saling mencintai karena-Ku? Dimanakah orang yang saling duduk karena-Ku? Dimanakah orang yang saling mengunjungi karena-Ku? Hari ini aku lindungi mereka dengan payung-Ku, disaat tiada perlindungan selain perlindungan-Ku.”
Aku berkata”Jadi sebenarnya apa yang engkau inginkan dariku? Aku akan mengikuti perintahmu dan aku siap dengan apa yang kau inginkan.”
Ia berkata”Lakukanlah apa saja. Teriaklah dengan suara lantang kepada mereka bahwa cinta mempunyai makna tersendiri yang belum pernah mereka pahami. Ia seperti sebuah sihir yang tidak bisa mereka rasakan. Jelaskan kepada mereka betapa aku sangat menderita karena salah paham mereka tentangku. Mereka lakukan tindakan-tindakan bodoh mengatasnamakan aku. Mereka merampas kehormatan orang lain atas namaku. Jika semut itu berteriak, mengingatkan seluruh bangsanya atas bahaya yang akan menimpa mereka ketika lewat satuan inspeksi tentara Sulaiman dengan berkata ”Berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”(An Naml:18). Maka, aku juga berteriak atas nasibku dan nasib semua orang yang mengatasnamakan cinta untuk berbuat ‘kerusakan’ di atas bumi ini. Seperti contoh yang aku kemukakan di atas, jika kita melihat ada bahaya yang menimpa kelompok kita, maka kita harus lantang memperingatkan mereka akan datangnya bahaya, atas dasar cinta dan sayang.”
Aku berkata”Permintaanmu itu sebuah tugas berat bagiku. Aku akan berjuang sekuat tenaga dengan mengorbankan segala kemampuan yang ada.”
Ia berkata” Itulah yang aku harapkan padamu dan mengapa hari ini aku susah payah datang kepadamu.”
Aku berkata” inilah tanganku, aku ulurkan kepadamu dan berjanji.”
Kemudian kami mengambil janji bersama. Dan ia pergi meninggalkanku. Inilah tulisan hasil perjanjian itu. Kan kupekikkan bassgi